PONTIANAK – Dalam sebuah permenungan mendalam pada Misa Prapaskah V di Paroki St. Sesilia, RP. Nobertus Desiderius, OFMCap. menyampaikan pesan katekese yang kuat mengenai peran Allah sebagai sumber kehidupan utama bagi manusia. Melalui analogi alam dan kisah Injil tentang Lazarus, umat diajak untuk memahami bahwa di dalam diri setiap orang beriman terdapat Roh Allah yang terus-menerus menghidupkan.
Jaringan Kehidupan: Belajar dari “Fantastic Fungi” Mengawali katekese ini, Pastor Nobertus mengangkat inspirasi dari sebuah dokumenter tentang jamur (fungi). Jamur memiliki jaringan bawah tanah yang disebut miselium, sebuah jaringan hidup yang sangat luas dan rumit, bahkan melebihi kerumitan jaringan internet. Jaringan ini memungkinkan daur ulang nutrisi dan regenerasi ekosistem, sehingga kehidupan tetap ada meski di tengah kehancuran.
Secara katekese, hal ini menjadi gambaran bagaimana Tuhan adalah sumber hidup yang menghidupkan segalanya. Hidup manusia dimungkinkan karena kehendak Tuhan, dan melalui Roh-Nya, Ia menutrisi hidup kita agar kita mampu beraktivitas dan memberikan semangat kepada sesama.
Kuasa di Atas Maut: Makna Kebangkitan Lazarus Puncak dari katekese ini merujuk pada kisah Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus. Peristiwa ini bukan sekadar mukjizat, melainkan pernyataan iman bahwa:
- Allah adalah Allah orang hidup: Yesus menunjukkan kuasa-Nya atas hidup dan mati. Ia membangkitkan Lazarus yang sudah empat hari membusuk di dalam kubur untuk menunjukkan kemuliaan-Nya.
- Katalisator Pengorbanan: Tindakan Yesus menghidupkan Lazarus menjadi alasan utama bagi para imam kepala dan orang Farisi untuk berkomplot membunuh-Nya karena merasa kehilangan pengaruh. Ini menunjukkan kontras tajam: Yesus membawa kehidupan, sementara dunia sering kali menawarkan kematian.
Memulihkan Harapan dari “Kubur” Keputusasaan Dalam praktik hidup sehari-hari, katekese ini mengingatkan bahwa manusia sering kali “mematikan” Tuhan dalam dirinya melalui sikap mengeluh, tidak bersyukur, dan putus asa.
“Tuhan memanggil kita satu-satu untuk keluar dari kubur kita, dari kegelapan makam kita,” ujar Pastor Nobertus dalam homilinya. Seringkali manusia merasa “loyo” atau kehilangan harapan, namun melalui katekese ini umat diingatkan untuk:
- Percaya pada Kuasa Allah: Seperti Martha dan Maria, umat diminta untuk tidak kecewa atau takut, melainkan percaya bahwa Allah sanggup memulihkan keterpurukan.
- Menanti Waktu Tuhan: Lazarus dibiarkan di makam selama empat hari bukan karena Tuhan tidak peduli, melainkan untuk menunjukkan kemuliaan Allah pada waktu-Nya yang tepat.
Sebagai penutup, umat diajak untuk meyakini bahwa waktu Tuhan adalah yang terbaik. Meskipun sering kali sulit dimengerti dan harus melewati cobaan, kuasa-Nya akan selalu merestorasi dan memulihkan hidup mereka yang percaya.
Tags:
