PONTIANAK – Dalam suasana penuh syukur dan persaudaraan, Paroki Santa Sesilia Pontianak resmi membuka perayaan Tahun Yubileum 800 Tahun Santo Fransiskus dari Asisi, Kamis (30/04/2026). Perayaan ini merupakan bagian dari Puncak Peringatan 800 tahun peristiwa-peristiwa penting hidup “Si Miskin dari Asisi” yang ditetapkan oleh Bapa Suci Paus Leo XIV sebagai masa rahmat khusus bagi seluruh umat beriman.
Sebagai bagian dari pembukaan ini, berikut adalah Katekese Hagiografi Santo Fransiskus dari Asisi untuk memperdalam pengenalan umat akan tokoh perdamaian dan pelindung ekologi ini:
1. Kelahiran dan Masa Muda: Dari Kemewahan ke Penjara
Lahir di Asisi, Italia pada tahun 1181/1182 dengan nama asli Giovanni di Pietro di Bernardone, ia merupakan putra dari pedagang kain kaya bernama Pietro Bernardone dan ibu bernama Pica. Fransiskus tumbuh dalam gelimang harta, gemar berpesta, dan memiliki gaya hidup bangsawan muda hingga dijuluki sebagai “Francesco”. Namun, titik balik hidupnya dimulai saat ia ikut berperang melawan Perugia pada tahun 1202, di mana ia ditangkap dan dipenjara selama satu tahun. Selama masa pemulihan dari sakit setelah bebas, ia mulai merenungkan tujuan hidupnya secara mendalam.
2. Panggilan Rohani dan Pertobatan: Suara dari Salib
Momentum pertobatan paling ikonik terjadi di Gereja San Damiano, saat Fransiskus mendengar suara Kristus dari salib yang berkata, “Fransiskus, perbaikilah Gereja-Ku yang hampir runtuh ini”. Awalnya ia menafsirkan kata-kata itu secara harfiah dengan memperbaiki bangunan fisik gereja menggunakan uang ayahnya. Konflik dengan ayahnya berujung pada pengadilan di hadapan uskup, di mana Fransiskus membuat tindakan radikal dengan melepaskan seluruh pakaian dan harta warisannya, lalu menyatakan bahwa sejak saat itu hanya Tuhan-lah Bapanya.
3. Karisma, Pelayanan, dan Spiritualitas: Hidup Menurut Injil
Fransiskus memilih hidup sebagai pengemis dan pekerja kasar demi melayani orang miskin serta penderita kusta. Karisma utamanya adalah pengosongan diri (kenosis) dan hidup tanpa milik (sine proprio) untuk mengikuti jejak Kristus secara murni.
- Misi: Ia mendirikan Ordo Saudara Dina (OFM) yang mendapat persetujuan lisan dari Paus Innosensius III pada 1209. Ia bahkan melakukan misi perdamaian ke Mesir menemui Sultan Malik al-Kamil pada 1219 di tengah berkecamuknya Perang Salib.
- Spiritualitas: Hidupnya berpusat pada doa dan persaudaraan universal, yang tertuang dalam puisi “Kidung Saudara Matahari” (Gita Sang Surya). Pada 1224, ia menerima Stigmata (luka-luka Yesus) di tubuhnya saat berdoa di Gunung La Verna, menjadikannya orang pertama dalam sejarah yang menerima tanda mistis tersebut secara nyata.
4. Wafat dan Kanonisasi: Menuju Transitus
Fransiskus wafat dalam kesederhanaan pada 3 Oktober 1226 di dekat gereja Porziuncola dalam usia sekitar 44/45 tahun. Peristiwa kemangkatannya dikenal sebagai Transitus. Karena kesucian hidupnya yang luar biasa, Paus Gregorius IX mengkanonisasinya sebagai Santo hanya dua tahun setelah kematiannya, tepatnya pada 16 Juli 1228.
5. Warisan dan Pengaruh: Cahaya bagi Dunia Modern
Warisan Fransiskus terus hidup hingga delapan abad kemudian. Ia diakui sebagai pelindung hewan, alam, dan pencinta damai. Salah satu pengaruh besarnya bagi tradisi Gereja adalah penciptaan Kandang Natal (Greccio) untuk pertama kalinya pada 1223. Melalui pembukaan Tahun Yubileum ini, Paroki Santa Sesilia mengajak umat untuk merefleksikan nilai-nilai kesederhanaan, keadilan, dan persaudaraan semesta di tengah dunia yang penuh konflik.
Pembukaan di Paroki Santa Sesilia ini juga menjadi kesempatan bagi umat untuk memperoleh Indulgensi Penuh dengan memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Gereja, yaitu mengaku dosa, menerima Ekaristi, dan berziarah serta mendoakan ritus khusus Tahun Yubileum.






Tags:
