PONTIANAK – Memasuki rangkaian Trihari Suci, ribuan umat Katolik di Gereja Santa Sesilia Pontianak mengikuti perayaan Ekaristi Kamis Putih dengan penuh khidmat pada Kamis, 2 April 2026. Perayaan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah momen katekese hidup tentang esensi terdalam dari iman Kristiani: pelayanan dan kerendahan hati.
Mengenang Perjamuan Terakhir dan Keteladanan Kristus Misa yang dipimpin oleh Pastor Fransiskus Yosnianto dan Pastor Atanasios Nandung ini mengajak umat untuk kembali mengenang peristiwa ribuan tahun lalu, saat Yesus Kristus mengadakan perjamuan malam terakhir bersama murid-murid-Nya. Dalam peristiwa tersebut, Yesus menunjukkan sebuah keteladanan yang luar biasa dengan membasuh kaki kedua belas rasul-Nya.
Ritus pembasuhan kaki yang dilakukan oleh kedua pastor kepada 12 perwakilan umat menjadi simbol kuat dari ajaran kasih tersebut. Pastor Fransiskus Yosnianto menegaskan bahwa tindakan ini adalah undangan bagi setiap murid Yesus untuk saling melayani.
Pesan Ketekese: Melayani Tanpa Pamrih Dalam homilinya, Pastor menekankan bahwa makna Kamis Putih adalah panggilan untuk merendahkan diri dan melayani sesama tanpa pamrih. Beliau mengingatkan umat agar tidak terjebak dalam kesombongan:
“Inilah pesan juga untuk kita semua murid-murid Yesus supaya kita seperti Yesus sang guru… artinya apa? Saling melayani merendahkan diri jangan menganggap diri sebagai orang yang hebat yang sombong tetapi merendah seperti Yesus,” ungkap Pastor Fransiskus.
Pesan ini diharapkan dapat menjadi semangat dan inspirasi bagi umat agar menjadikan pelayanan sebagai nilai hidup yang nyata dalam keseharian, bukan hanya di dalam gereja tetapi juga di tengah masyarakat.
Pengalaman Spiritual dan Solidaritas Bagi perwakilan umat yang terpilih untuk dibasuh kakinya, momen ini menjadi pengalaman spiritual yang mendalam. Salah seorang perwakilan mengungkapkan rasa bahagia dan terkejutnya karena dipercaya mengambil peran yang biasanya identik dengan kaum bapak, dan berharap pengalaman ini dapat mendorong kepedulian yang lebih besar terhadap sesama.
Antusiasme umat yang memenuhi ruang gereja hingga area tenda di halaman menunjukkan kerinduan akan pesan damai dan penguatan solidaritas. Setelah perayaan Ekaristi usai, ibadah dilanjutkan dengan perarakan Sakramen Mahakudus dalam keheningan, sebagai bentuk refleksi mendalam atas pengorbanan Kristus.
Melalui perayaan Kamis Putih di Gereja Santa Sesilia ini, umat diingatkan kembali bahwa menjadi pengikut Kristus berarti siap untuk “saling mencuci kaki”—siap untuk melayani dengan tulus dan rendah hati dalam kehidupan bermasyarakat
Tags:
